Sepekan Berburu Tuna Dengan Casting dan Jigging
Trip ini sebenarnya sudah berlangsung dari 2 tahun, trip bersama Komunitas Mancing Kamikaze ke ujung barat Indonesia atau tepat di Pulau Weh, Aceh, berlangsung sukses. Trip
kali ini menargetkan ikan monster penguin perairan Aceh yang dikenal sebagai
salah satu surganya pemancing.
Mengawali
keberangkatan melalui Jakarta
menuju Aceh (12/2), tim berangkat dengan pesawat Lion Air. Sesampai di Aceh
dengan kendaraan mobil kami menuju tempat sandar kapal yang sudah menunggu.
Melalui dermaga di sekitar Kampung Jawa kami menaiki kapal KM Dian Sabang
dengan Kapten Jafar.
Adalah Freddy, Dr. Awie, Ivan, Yantosu, Martin, Martin, Imam, Subur dan Jusito memuali perburuan dilokasi Spot Mancing, yaitu seputaran Pulau Weh, Pulau Rondo dan Pante Utara. Kami langsung loading barang dan berangkat menuju Kampung Iboih Pulau Weh dan sesampai disana check in hotel untuk istirahat dan persiapan lainnya.
Pukul 04.00 (13/2) kami berangkat dari dermaga Iboih untuk menuju spot tuna di sekitaran Pulau Rondo, sampai disana kami disambut hujan yang deras sehingga kami hanya bisa berada di dalam kabin kapal melihat Yellow Fin Tuna (YFT) loncat-loncat mengejar ikan kecil. Kami pun hanya bisa menonton kejadian ini dari dalam kabin saja mungkin karena berpikir masih ada waktu 6 hari lagi untuk mancing disana jadi kami nampak menjaga kondisi kesehatan untuk tidak hujan-hujanan.
Setelah hujan redah waktu sudah
terlalu siang untuk mancing tuna, kata Kapten Jafar. Akhirnya Kapten membawa
kami ke spot Pante Utara untuk jigging, disana kita mencari tuna gigi anjing
(Doggie) tapi sesampai di sana
terpaksa harus balik kembali karena cuaca tiba-tiba berubah dengan ombak yang meninggi.
Kami putuskan untuk kembali ke
pulau Rondo sambil jigging drifting disana hingga sore hari kami belum mendapatkan
sambaran dari monster yang kami cari. Akhirnya kami memutuskan untuk popping
disekitaran Pulau Rondo, disini Dr. Awie berhasil strike GT sekitar 25 kg dengan menggunakan piranti medium tackle. Keliatan
cukup sulit juga untuk menaikan ikan sebesar ini dengan rod yang lentur,
akhirnya berhasil juga sang GT naik ke kapal dan setelah foto-foto langsung
kami rilisnya.
Sebelum gelap kepten langsung
mencari posisi jangkar yang baik untuk mancing hingga pagi sambil menunggu sang
YFT lewat yang biasanya menampakan dirinya kala pagi hari. Pagi hari (14/2)
setelah penantian yang panjang kami hanya berhasil mendapat seekor YFT kecil
dan satu ekor strike YFT besar dengan menggunakan ril stella 20.000 menjerit
dengan panjang tapi sayang ikan berhasil melarikan diri kemungkinan hook up
kurang sempurna.
Setelah kembali ke base hotel untuk
istirahat kami sempatkan untuk casting di muara sambil menunggu dua rekan dari Jakarta dan satu dari Semarang untuk bergabung. sore hari dengan
menyewa speedboat kecil. Kami berenam menuju muara-muara di seputaran Kampong
Iboih untuk casting. Dengan target ikan barramundi akhirnya kami berhasil
mendapat beberapa kali strike.
Menjelang malam dapat kabar dua
rekan sudah sampai di hotel kami langsung menyudahi trip casting dan bergabung
untuk persiapan mancing kembali. Setelah makan malam kami berangkat dengan
kapal untuk mancing ikan eskolar di sekitaran Pulau Weh, ternyata spot eskolar
sang kapten tidak jauh dari daratan. Martin merasakan sensasi strike ikan baracouta
dan seekor eskolar. Diikuti oleh rekan lainnya yang juga berhasil mendapatkan baracouta.
Rabu subuh kami kembali di
sekitaran Pulau Rondo menanti YFT lewat tetapi memang kami belum hoky, hingga
pagi hari menjelang siang ikan YFT tidak ada seekor pun yang menyantol di jig
kecil castingan kami. Begitu terang kepten bilang mau makan ambil menu makan
siang dulu ikan kerapu lodi ,
ternyata banyak banget ikan dasar di bawah kapal dengan umpan tongkol iris
tidak berhenti strike ikan-ikan lauk untuk makan siang.
Spot selanjutnya adalah Pante Utara
untuk mencari doggie, sesampai disana kami jigging drifting hingga sore. Kami
berhasil menaiki beberapa ekor ikan GT ukuran sedang. Menjelang gelap kepten
mencari posisi yang bagus buat ngejangkar, setelah lampu sorot dihidupkan
tampak live bait banyak banget di sekeliling kapal. “Wah alamat panen nih,”
kata yg lain.
Bener saja dari malam hingga pagi hari di spot ini kami
tidak berhenti strike doggie dan big eye dengan teknik casting dan jigging. Hanya
pak dokter yang bawa rod casting tuna, kami rata-rata memakai rod casting kecil
yg dipakai untuk casting di pinggiran, tapi ternyata sensasinya luar biasa
dengan menggunakan ril kecil dan line pe kecil pula.
Kamis (16/2) kami kembali ke base Kampong
Iboih untuk istirahat setelah dua malam di laut. Sampai di hotel kami istirahat
hingga sore hari, sekitar pukul 4 sore kami berangkat kembali menuju spot
eskolar tapi kembali kami di ganggu oleh banyaknya ikan baracoutta. Dari pada
benang PE yang kami gunakan habis lebih baik kami memutuskan untuk ke Pulau
Rondo kembali untuk menunggu YFT.
Jumat (17/2) di sekitaran Pulau
Rondo kami dengan sabar menunggu YFT lewat, dari malam hingga terang kami
casting trus dengan jig kecil. Dengan harapan strike YFT akhirnya kami berhasil
strike namun kali ini ikan doggie terus yang berhasil diperoleh tim dan beberapa
kali ikan big eye juga berhasil kami dapat.
Akhirnya di subuh pagi Awie teriak…
“YFT…”, karena hanya menggunakan ril daiwa 3000 dengan pe 2 nya, ril terus menjerit
dengan kencang sekali. Setelah beberapa lama akhirnya naik seekor YFT dengan
berat sekitar 15-20 kg. Dalam penantian perburuan YFT kami di ganggu terus oleh
doggie dan big eye tapi cukup terhibur karena rata-rata kami menggunakan light
tackle.
Setelah terang kami coba popping
kembali kami menuai manis dengan berhasil menaikan GT dan Baracuda. Sekitar
siang hari kami kembali ke base untuk istirahat dan siap-siap lagi untuk
berangkat satu malam lagi.
Hari terakhir (18/2) kami mancing
kembali mengambil spot di seputaran Pulau Rondo, untuk menunggu YFT tapi untuk
hari terakhir ini kami kurang beruntung karena genset kapal rusak tidak keluar
listriknya. Akhirnya dengan hanya menggunakan lampu neon kecil kami casting,
namun ikan yagn naik hanya puluhan ikan big eye.
Pagi hari kami langsung kembali ke
base untuk snorkling dan menikmati keindahan alam di sekitaran Kampong Iboih. Hingga
sore hari kami di antar oleh KM Dian Sabang ke Banda Aceh untuk selanjutnya
bermalam di sana dan minggu siang kami kembali
ke Jakarta . mb (seperti dikisahkan Joesito Kamikaze)